terulang lagi

punggungku sakit, sakit sekali. aku dah di pinggir jalan dikelilingi orang-orang yang kebanyakan tak kukenal, perasaan tadi aku dibonceng teman. aku baru ingat, waktu itu sekitar jam 2 dini hari. sepulang dari refreshing di kawasan prapen, aku dan temenku sama-sama ngantuk. “pulang aja, aku ngantuk,” kataku. jupiter-z silver biru pun meluncur kencang dengan posisi aku di belakang. di depan plasa marina (kata temenku yang barengan), menabrak pembatas jalan yang di ujungnya ada tiang rambu. untungnya, aku tak lecet sedikitpun.

tak bisa tidur, punggungku terus terasa sangat nyeri. antara pergi ke tukang pijat dan RS bikin bingung, dan akhirnya kuputuskan untuk ke RS aja. hasil rontgen sinar X, ditemukan bahwa tulang punggungku terjadi kompresi. itu karena, menurut dokter, salah pertolongan pertama. tapi, gak bisa disalahkan juga seh. la kalo gak segera dipinggirkan gimana? apa harus di tengah jalan terus nunggu paramedis? sedangkan paramedis di negara kita kayak gitulah kinerjanya.

dokter ahli tulang memvonis harus rawat inap, dan mungkin harus dilakukan tindakan operasi. operasi? wah, aku takut, sangat takut. selang tiga hari terus terlentang di RS, dokter melunak. tidak ada operasi. alhamdulillahh… “tapi harus dipasang gips, untuk menjaga posisi tulang agar tidak bergeser,” kata dokter. tidak apa-apa, yang penting tidak jadi operasi. hari jum’at siang, gips dipasang mengelilingi tubuhku, persis seperti memakai setagen kata orang jawa. “ingat, gips ini akan terpasang di tubuh selama tiga bulan. ” haahh!! tiga bulan? aku hanya bisa pasrah, aku tidak bisa bebas lagi liputan. (bersambung)

Leave a Reply